Di Balik Sekali Scan QRIS: Bagaimana Fintech Mengubah Sistem Keuangan Kita?

**Denpasar, Bali** – Bayangkan kamu sedang membeli kopi sebelum masuk kelas. Tidak membawa uang tunai? Bukan masalah. Kamu hanya perlu membuka aplikasi pembayaran, memindai QRIS, memasukkan nominal, lalu menekan tombol “Bayar”. Dalam beberapa detik, transaksi selesai. Bagi pengguna, prosesnya terlihat sederhana. Namun, di balik satu kali pemindaian QRIS, terdapat jaringan teknologi, pengolahan data, pencatatan transaksi, pengendalian keamanan, hingga proses penyusunan laporan keuangan. Di sinilah teknologi finansial atau financial technology (fintech) bekerja. Fintech merupakan perpaduan antara keuangan, teknologi, data, dan sistem bisnis. ## QRIS Bukan Sekadar Gambar Kotak-Kotak QRIS merupakan singkatan dari Quick Response Code Indonesian Standard. QRIS bukan nama aplikasi pembayaran, melainkan standar nasional yang dikembangkan oleh Bank Indonesia bersama industri sistem pembayaran. Dengan adanya QRIS, satu kode pembayaran dapat dipindai melalui berbagai aplikasi bank dan dompet digital yang mendukung layanan tersebut. Penjual tidak perlu menyediakan kode QR berbeda untuk setiap aplikasi pembayaran. Bank Indonesia menjelaskan bahwa QRIS dikembangkan agar pembayaran menggunakan kode QR menjadi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal. Setiap penyedia jasa pembayaran yang menyediakan layanan pembayaran berbasis kode QR juga diwajibkan menggunakan standar QRIS. Penggunaannya kini sangat luas. Sampai semester pertama 2025, QRIS telah menjangkau sekitar 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant. Sebanyak 93,16 persen merchant tersebut merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM. Dalam periode yang sama, tercatat 6,05 miliar transaksi dengan nilai mencapai Rp579 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa QRIS telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari, mulai dari transaksi di pusat perbelanjaan hingga pembayaran di warung, kedai kopi, pasar, dan usaha rumahan. ## Apa yang Terjadi Setelah Memindai QRIS? Ketika pengguna memindai QRIS, aplikasi pembayaran akan membaca informasi yang terdapat dalam kode tersebut. Informasinya dapat mencakup identitas merchant, penyedia layanan pembayaran, dan data transaksi tertentu. Pada QRIS statis, pengguna biasanya perlu memasukkan sendiri nominal pembayaran. Sementara itu, pada QRIS dinamis, nominal dan informasi transaksi dapat muncul secara otomatis. Setelah pengguna memeriksa nominal dan mengonfirmasi pembayaran, sistem akan memverifikasi sumber dana yang digunakan. Dana tersebut dapat berasal dari rekening bank atau saldo uang elektronik, tergantung aplikasi dan layanan yang dipilih. Instruksi pembayaran kemudian diteruskan melalui jaringan sistem pembayaran kepada pihak yang melayani merchant. Apabila transaksi berhasil diproses, pengguna dan merchant akan menerima notifikasi. Kelihatannya hanya berlangsung beberapa detik, tetapi sistem perlu memastikan bahwa: - Identitas merchant sesuai. - Saldo atau sumber dana tersedia. - Nominal transaksi benar. - Pembayaran tidak diproses lebih dari satu kali. - Transaksi memperoleh otorisasi pengguna. - Data dikirim melalui kanal yang aman. - Hasil transaksi dapat dicatat serta ditelusuri kembali. Proses tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital bukan hanya persoalan memindahkan uang. Ada sistem informasi yang memastikan setiap transaksi diproses secara akurat, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan. ## Ke Mana Data Transaksinya Pergi? Setiap transaksi digital menghasilkan data. Data tersebut dapat memuat waktu pembayaran, nominal transaksi, identitas merchant, sumber pembayaran, status transaksi, dan nomor referensi. Dalam sebuah bisnis, data pembayaran idealnya tidak berhenti pada notifikasi “transaksi berhasil”. Data perlu dicocokkan dengan catatan penjualan, sistem kasir, persediaan, rekening penerimaan, serta laporan keuangan perusahaan. Proses pencocokan ini dikenal sebagai rekonsiliasi. Sebagai contoh, sebuah kedai kopi mencatat penjualan sebesar Rp5 juta melalui sistem kasir dalam satu hari. Bagian keuangan perlu memastikan bahwa jumlah tersebut sesuai dengan transaksi QRIS yang berhasil dan dana yang diterima pada akun merchant. Apabila terdapat selisih, penyebabnya harus ditelusuri. Mungkin ada transaksi gagal yang tercatat sebagai penjualan, kesalahan nominal, pembayaran ganda, biaya layanan, atau perbedaan waktu pencairan dana. Tanpa sistem yang terintegrasi, bisnis dapat memiliki data penjualan yang berbeda antara aplikasi kasir, dashboard pembayaran, rekening bank, dan laporan akuntansi. Inilah alasan mengapa perusahaan membutuhkan Sistem Informasi Akuntansi. Sistem tersebut membantu mengumpulkan, memproses, menyimpan, mengendalikan, dan menyajikan informasi transaksi untuk mendukung operasional serta pengambilan keputusan. ## Siapa yang Akan Mengelola Sistem Keuangan Digital? Perkembangan fintech membuka kebutuhan terhadap talenta yang mampu menjembatani dunia keuangan dan teknologi. Perusahaan memerlukan orang yang memahami bagaimana transaksi dicatat, bagaimana basis data dirancang, bagaimana sistem pembayaran diintegrasikan, bagaimana risiko dikendalikan, dan bagaimana data diolah menjadi informasi bisnis. Kebutuhan tersebut membuka berbagai peluang karier, seperti financial system analyst, business analyst, fintech analyst, data analyst, digital accountant, IT auditor, risk analyst, dan fraud analyst. Profesi-profesi tersebut tidak hanya bekerja dengan angka. Mereka juga berhadapan dengan aplikasi, basis data, sistem bisnis, pengendalian internal, keamanan informasi, dan analisis data. Sebagian besar Gen Z telah terbiasa menggunakan QRIS, mobile banking, dompet digital, marketplace, dan berbagai aplikasi keuangan. Namun, menjadi pengguna teknologi saja tidak cukup. Generasi muda juga memiliki peluang untuk menjadi pihak yang merancang, mengembangkan, menganalisis, mengaudit, dan mengelola sistem di balik teknologi tersebut. Melalui Program Studi Sistem Informasi Akuntansi Primakara University, mahasiswa mempelajari keterkaitan antara akuntansi, teknologi, analisis data, proses bisnis, dan sistem informasi. Mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana transaksi dicatat dalam laporan keuangan, tetapi juga memahami bagaimana data transaksi diperoleh, diproses, disimpan, dikendalikan, dan dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan. Karena di era fintech, perusahaan tidak cukup hanya memiliki orang yang memahami keuangan atau hanya memahami teknologi. Dunia kerja membutuhkan talenta yang mampu menghubungkan keduanya. Jadi, ketika kamu melakukan pembayaran menggunakan QRIS, ingatlah bahwa di balik satu kali pemindaian terdapat sistem yang sangat luas. Mungkin hari ini kamu adalah penggunanya. Namun, melalui Prodi Sistem Informasi Akuntansi, kamu dapat menjadi salah satu orang yang membangun dan mengelola sistem keuangan digital masa depan. [Klik di sini untuk mendapatkan informasi Pendaftaran Calon Mahasiswa Baru.](https://join.primakara.ac.id/penerimaan) ***Kreator: Ni Putu Noviyanti Kusuma, A.Md., S.Ak., M.Ak.*** ***Editor: I Putu Kumara Wiguna, S.I.Kom.*** ***Dapatkan artikel inspiratif dan berita IT terkini di [Primakara.ac.id.](https://primakara.ac.id/) Ikuti juga Official Instagram dengan mengklik [link ini.](https://www.instagram.com/primakara.univ/?next=%2F)***

explore more
primakara university

360 Virtual Tour

Ikuti Virtual Tour

Penerimaan mahasiswa

Penerimaan

Berita & Kegiatan

Lihat Berita